Selasa, 26 Mei 2009

CTL

TREN PEMIKIRAN TENTANG BELAJAR DAN PERAN
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL









A. Kecenderungan Pemikiran Tentang Belajar

Beberapa kecenderungan pemikiran dalam teori belajar yang mendasari filosofi pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut :

1. Proses Belajar
Hakikat proses belajar yang sesungguhnya  Belajar tidak hanya sekadar menghapal. Siswa harus mengkonstrukkan pengetahuan di benak mereka sendiri.
 Anak belajar dari mengalami. Ia mencatat pola bermakna dari pengetahuan baru, bukan diberi oleh guru.
 Pengetahuan yang dimiliki seseorang terorganisir dan mecerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan (subject matter).
 Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau preposisi, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat dipisahkan.
 Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
 Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya.
 Proses belajar akan mempengaruhi struktur otak, yang berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang.

2. Transfer Belajar
Hakikat transfer belajar  Pembelajaran kontekstual bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan yang secara pleksibel dapat ditransfer dari suatu permasalahan ke permasalahan yang lain atau dari suatu konteks ke konteks yang lain.
 Siswa belajar sendiri, bukan dari pemberian orang lain.
 Keterampilan dan pengetahuan dapat diperluas dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit.
 Penting bagi siswa tahu ’untuk apa’ ia belajar, dan ’bagaimana’ ia menggunakan keterampilan dan pengetahuan itu dalam kehidupannya.
3. Siswa sebagai Pembelajar
Hakikat siswa sebagai pembelajar  Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar pada bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecen-derungan untuk belajar dengan cepat hal-hal yang baru.
 Strategi belajar itu penting, untuk membantu anak mempelajari hal yang baru.
 Perlunya peran guru dalam membantu menghubungkan antara ’yang baru’ dan yang ’sudah diketahui’.
 Tugas guru sebagai fasilitator agar informasi baru bermakna bagi siswa dalam menemukan dan menerapkannya sendiri.

4. Pentingnya Lingkungan Belajar
Urgensi lingkungan belajar siswa  Belajar efektif itu dimulai dari liangkungan belajar yang berpusat pada siswa.
 Pengajaran harus berpusat pada ’bagaimana cara’ siswa menggunakan pengetahan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan daripada hasilnya.
 Pentingnya umpan balik, yang berasal dari penilaian (assessment) yang benar.
 Pentingnya menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok.

B. Fokus Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peran guru. Sehubungan dengan itu, maka pendekatan pembelajaran kontekstual harus menekankan hal-hal sebagai berikut :
Beberapa pendekatan dalam pembelajaran kontekstual 1. Belajar Berbasis Masalah (Problem-Based Learning), yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berfikir kritis.
2. Pembelajaran Autentik (Authentic Instruction), yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna.
3. Belajar Berbasis Inquiri (Inquiry-Based Learning), yaitu yang membutuhkan strategi pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4. Belajar Berbasis Proyek/Tugas (Project-Based Learning), yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa untuk mengkonstruk (membentuk) pembelajarannya, dan mengkulminasikannya dalam produk nyata.
5. Belajar Berbasis Kerja (Work-Based Learning), yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa meng-gunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dapat dipergunakan kembali di tempat kerja.
6. Belajar Berbasis Jasa Layanan (Service-Based Learning), yakni pendekatan yang memerlukan penggunaan metodologi pembelajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa layanan tersebut; jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa layanan dan pembelajaran akademis.
7. Belajar Kooperatif (Cooperative Learning), yakni yang memerlukan pendekatan pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.

C. Prinsip Penerapan Pembelajaran Kontekstual

Berkaitan dengan faktor kebutuhan individu siswa, dalam menerapkan pembelajaran kontekstual guru perlu memperhatikan prinsip pembelajaran sebagai berikut :
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru dalam menerapkan pembelajaran kontesktual 1. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental (developmentally approprite) siswa.
2. Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung untuk saling belajar. (independen learning groups).
3. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning).
4. Mempertimbangkan keberagaman siswa (disversity of students).
5. Meperhatikan multi intelegensi (multiple intelligences) siswa.
6. Menggunakan teknik-teknik bertanya (questioning technics) untuk meningkatkan pembelajaran siswa.
7. Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment).

D. Peran Guru

Agar proses pembelajaran kontekstual lebih efektif, guru perlu melaksanakan beberapa hal sebagai berikut :
Hal-hal yang harus dilakukan guru 1. Mengkaji konsep dan kompetensi dasar yang akan dipelajari oleh siswa.
2. Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama.
3. Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa, selanjutnya memilih dan mengaitkannya dengan konsep dan kompetensi yang akan dibahas dalam proses pembelajaran kontekstual.
4. Merancang pembelajaran dengan mengaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan kehidupan mereka.
5. Melaksanakan pembelajaran dengan selalu mendorong siswa untuk mengaitkannya apa yang sedang dipelajari dengan pengalaman yang telah dimiliki siswa sebelumnya serta mengaitkannya dengan fenomena sehari-hari.
6. Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, yang hasilnya dijadikan bahan refleksi untuk merancang pembe-lajaran selanjutnya.

Sehubungan dengan penjelasan tersebut di atas, strategi pembelajaran yang dipilih guru harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Menekankan pada pemecahan masalah (problem solving).
2. Mengakui bahwa kebutuhan pembelajaran terjadi di berbagai konteks, misalnya rumah, masyarakat, da tempat kerja.
3. Mengontrol dan mengarahkan pembelajaran siswa, sehingga mereka menjadi pembelajar yang mandiri (self-regulated leaners).
4. Bermuara pada keragaman konteks hidup yang dimiliki siswa.
5. Mendorong siswa untuk belajar dari sesamanya dan bersama-sama atau menggunakan kelompok belajar interdependen (interdependent learning groups).
6. Mengunakan penilaian autentik (authentic assessment).

E. Lima Strategi Umum pembelajaran Kontekstual

Menurut Center of Occupational Research and Development (CORD), ada lima strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pembelejaran kontekstual, yaitu :
REACT: lima strategi berjenjang dalam pembelajaran kontekstual 1. Relating; Belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman hidup nyata.
2. Experiencing; Belajar ditekankan kepada penggalian (eksploration), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention).
3. Applying; Belajar bilamana dipresentasikan di dalam konteks pemanfaatannya.
4. Cooperating; Belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian besama, dan sebagainya.
5 Transferring: Belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi atau konteks baru.

F. Sembilan Wilayah Konteks

Untuk keperluan pembelajaran kontekstual, pengertian ’konteks’ dijabarkan menjadi sembilan wilayah oleh Abdurrahman dan Bistok, yaitu :
Wilayah ’konteks’ belajar 1. Isi – Apa yang diajarkan ?
2. Sumber belajar –Apa yang tersedia dan dapat diharapkan ?
3. Sasaran – Siapa yang diajar ?
4. Guru – Kualitas guru yang bagaimana yang dibutuhkan ?
5. Metode – Praktek pembelajaran yang bagaimana yang dire-komendasikan ?
6. Hasil belajar – Bagaimana cara menilai prestasi siswa ?
7. Waktu – Bagaimanakah kesiapan siswa ?
8. Lokasi – Lingkungan yang bagaimana yang ditempati siswa ?
9. Kegunaan – Mengapa mengajar dengan cara itu ?

G. Syarat Silabus Berbasis Kompetensi

Isi silabus berbasis kontekstual harus memiliki konteks dengan kegunaannya dalam kehidupan, karenanya harus memenuhi syarat sebagai berikut :
Syarat silabus berbasis kontekstual 1. Meningkatkan motivasi
 Konteks dapat dipilih untuk meningkatkan motivasi siswa. Konteks yang dimaksud adalah yang menarik siswa untuk belajar yang terkait dengan keadaan siswa sendiri.
2. Meningkatkan Pemahaman konsep
 Siswa akan mengembangkan pemahamannya dengan baik jika mereka dapat secara mudah mengaitkan antara sesuatu yang telah mereka kenal dengan pengetahuan atau pengalaman yang baru/belumdikenal.
3. Meningkatkan keterampilan komunikasi
 Program pembelajaran harus dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi (membaca, menulis, berbicara, menyimak) untuk membangun ide yang logis dalam lingkungan belajar yang kondusif.
 Guru harus mendorong siswa untuk mengekspresikan ide-ide yang dikuasainya dengan bebas berkomunikasi melalui lisan atau tulisan.
4. Meningkatkan penguasaan materi
 Penguasaan materi bukan hanya penguasaan fakta, tetapi juga yang berkenaan dengan sikap terhadap belajar dan terhadap pandangan yang berbeda.
 Penguasaan materi harus membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuan teknik dengan nilai-nilai pribadi, sehingga siswa mampu membuat keputusan berdasarkan pemikiran yang mendalam dan melakukan diskusi dengan orang lain.
5. Meningkatkan kontribusi pribadi dan sosial
 Pendidikan harus merupakan suatu proses yang dapat meningkatkan perkembangan pribadi maupun masyarakat, pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai.
 Sekolah tidak dapat dikatakan melaksanakan pendidikan jika tidak melakukan orientasi kritis secara sosial, yang meliputi :
 pelaksanaan pendidikan sebagai proses refleksi mengenai dunia fisik, intelektual, dan sosial;
 usaha membantu siswa dan masyarakat memahami dan mengevaluasi struktur dan nilai yang ada dalam masyarakat;
 memiliki komitmen tinggi untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar